Gadis SMP Keluar Darah di vagina Saat Setubuh" Ah..Ah..Ah Mas Kau Ambil Keperawananku... CLICK DISINI......

Selasa, 24 Mei 2011

cerita ngewe cewek 11 tahun

FOTO - FOTO BUGIL BUNGA CITRA LESTARI TERBARU

VIDEO PORN JULIA PEREZ

FOTO - FOTO BUGIL AGNES MONICA TERPANAS

VIDEO MESUM TERBARU SISWI SMU PONOROGO

Cerita Sex 'Shindy Gadis imut 11 Tahun' Cerita Dewasa Sex Cerita Sex. Saat ini aku menetap di rumah kos dengan sebuah keluarga yang memiliki tiga orang anak. Anak pertama berusia 15 tahun laki-laki, yang nomor dua. Cerita Sex Sama Gadis Kecil 11 Tahun ~ Artikel Menarik Cerita Sex Sama Gadis Kecil 11 Tahun akan bersambung ke part 2 dan akan kami update beberapa hari lagi jadi tongkrongin terus situs cerita sex dan cerita Lanjutan Cerita Sex Ngentot Gadis Kecil 11 Tahun Bagian 2 Foto Cerita Sex - Lanjutan Cerita Sex Ngentot Gadis Kecil 11 tahun Bagian  Cerita Sex Kali ini merupakan kelanjutan dari sebelumnya Cerita Ngentot Gadis 11 Tahun - Linggars.com
Cerita Sex xxx ngentot dengan cewek bispak gadis sampul. Siang itu panas sekali ketika ... Cerita (8) Cerita Dewasa (12) Cerita Dewasa 17 tahun (11) Cerita Cerita sex gadis 11 tahun  Cerita sex gadis 11 tahun. Diperkosa, Bocah 11 Tahun Hamil dan Lahirkan Anak. Cerita Ngentot Cewek 11 Tahun ngentot cewek 10 tahun torrent search results - download ... ngentot cewek tidur Ngentot anak 5 tahun cerita ngentot cewek Cerita Sex Sama Gadis Kecil 11 Tahun Cerita ngentot anak kecil - Cerita ngentot anak 11 tahun - 4 Anak Ia diterima di Universitas pada usia 11 tahun. ... ngento bocah, ngento anak kecil, mesum dengan cewek umur 11 tahun, Kisah ngetot anak 11 tahun, ...Cerita Sex Sama Gadis Kecil 11 Tahun Foto Bugil Video Porno Gambar cerita Sex kali ini adalah kiriman dari seorang member yang mempunyai nick name "trokio" berikut Ceria Dewasa dari beliau Hai, Cerita Ngentot Gadis 12 Tahun Panas, Cerita Sex Dewasa Panas 17 tahun ,memperkosa,,ngewe,orgasme . ... Cerita merkosa mertua Nov 11, 2010 ... Sex 12 tahun tube, Aku di perkosa mama dan ...


Aku baru saja pulang kuliah. Di tempat kosku yang baru, aku selalu saja gerah. Kamarku yang berukuran 3,5X3

meter itu, hanya memiliki sebuah jendela, sebuah tempat tiodur, satu meja kecil tempat komputerku dan rak buku

mini. Kamar kecil itulah istanaku.


Di sebelah kamarku, ada taman kecil yang kubuat sendiri, sekedar untuk menghilangkan penat. Ada jemuran dan

kutanami beberapa pohon bunga agar sedikit lebih terasa asri. Di sanalah aku menyelesaikan tugas-tugas

kuliahku. Apalagi sebentar lagi aku akan memasuki Ujian Akhir Kuliah (UAS). Semoga tahun depan aku bisa

menyelesaikan sarjanaku.

Aku tinggal kos dengan sebuah keluarga, memiliki dua orang anak. Yang sulung berusia 15 tahun laki-laki, yang

nomor dua berusia 13 tahun, perempuan dan yang kecil berusia 11 tahun perempuan.
Aku mau menceritakan kisahku y ang sebenarnya pada Evi anak perempuan berusia 11 tahun itu. Dia duduk di kelas

5 SD. Centil dan sangat grusah-grusuh, tapi baik hati. Dia suka membawakan makanan kecil dan mau disuruh

membelikan rokok serta membelikan gorengan untuk cemilan sore. Selalu saja dia mendapatkan bagian dari cemilan.

itu. Saat aku tidur sore, dia suka membanguni aku, agar cepat mandi, karena sudah sore. Tak lupa setelah itu

dia membawakan PR-nya untuk kami kerjakan bersama. Tentu saja aku suka, karean Evi memang anak yang baik,

bersih, berkulit putih. Ayah ibunya sangat senang, karean aku suka mengajarinya menyanyi oleh vocal. Sebagai

mahasiswa Fakultas Kesenian jurusan etnomusikologi, aku juga senang memainkan gitar klasikku. Terkadang dari

seberangkamarku, ibu Evi suka mengikuti nyanyianku. Apalagi kalau aku memetik gitarku dengan lagu-lagu

nostalgia seperti Love Sotery atau send me the pillow.

Sore itu, aku gerah sekali. Aku mengenakan kain sarung. Biasa itu aku lakukan untuk mengusir rasa gerah. Semua

keluarga tau itu. Kali ini seperti biasanya aku mengenakan kain sarung tanpa baju seperti biasanya, hanya saja

kali ini aku tidak mengenakan CD.

"Wandy (nama samaran)...ibu pergi dulu ya. Temani Evi, ya," ibu kosku setengah berteriak dari ruang tamu.
"Ok...bu!"jawabku singkat. Aku duduk di tempat tidurku sembari membaca novel Pramoedya Ananta Toer. AKu

mendengar suara pintu tertutup dan Evi menguncinya. Tak lama Evi datang ke kamarku. Dia hanya memakai

minishirt. Mungkin karean gerah juga. Terlihat jelas olehku, teteknya yang mungil baru tumbuh membayang.

Pentilnya yang aku rasa baru sebesar beras menyembul dari balik minishirt itu. Evi baru saja mandi. Memakai

celana hotpant. Entah kenapa, tiba-tiba burungku menggeliat. Saat Evi mendekatiku, langsung dia kupeluk dan

kucium pipinya. Mencium pipinya, sudah menjadi hal yang biasa. Di depan ibu dan ayahnya, aku sudah beberapa

kali mencium pipinya, terkadang mencubit pipi montok putih mulus itu.

Evi pun kupangku. Kupeluk dengannafsu. Dia diam saja, karen tak tau apa yang bakal tejadi. Setelah puas mencium

kedua pipinya, kini kucium bibirnya. Biobir bagian bawah yang tipis itu kusedot perlahan sekali dengan lembut.

Evi menatapku dalam diam. Aku tersenyum dan Evi membalas senyumku. Evi berontak sat lidahku memasuki mulutnya.

Tapi aku tetap mengelus-elus rambutnya.
"Ulurkan lidahmu, nanti kamu akan tau, betapa enaknya," kataku berusaha menggunakan bahasa anak-anak.
"Ah...jijik,"katanya. Aku terus merayunya dengan lembut. Akhirnya Evi menurutinya. Aku mengulum bibirnya dengan

lembut. Sebaliknya kuajari dia mkenyedot-nyedot lidahku. Sebelumnya aku mengatakan, kalau aku sudah sikat gigi.
"Bagaimana, enak kan?" kataku. Evi diam saja. Aku berjanji akan memberikan yang lebih nikmat lagi. Evi

mengangukkan kepalanya. Dia mau yang lebih nikmat lagi. Dengan pelan kubuka minishirt-nya.
"Malu dong, kak?" katanya. Aku meyakinkannya, kalau kami hanya berdua di rumah dan tak akan ada yang melihat.

Aku bujuk dia kalau kalau mau tau rasa enak dan nanti akan kubawa jajan. Bujukanku mengena. Perlahan kubuka

minishirt-nya. Bul....buah dadanya yang baru tumbuh itu menyembul. Benar saja, pentilnya masih sebesar beras.

Dengan lembut dan sangat hati-hati, kujilati teteknya itu. Lidahku bermain di pentil teteknya. Kiri dan kanan.

Kulihat Evi mulai kegelian.
"Bagaimana...enakkan? Mau diterusin atau stop aja?" tanyaku. Evi hanya tersenyum saja.
Kuturunkan dia dari pangkuanku. Lalu kuminta dia bertelanjang. Mulanya dia menolak, tapi aku terus membujuknya

dan akupun melepaskan kain sarungku, hingga aku lebih dulu telanjang. Perlahan kubuka celana pendeknya dan

kolornya. Lalu dia kupangku lagi. Kini belahan paginanya kurapatkan ke burungku yang sudah berdiri tegak bagai

tiang bendera. Tubuhnya yang mungil menempel di tubuhku. Kami berpelukan dan bergantian menyedot bibir dan

lidah. Dengan cepat sekali Evi dapat mempelajari apa yang kusarankan. Dia benar-benar menikmati jilatanku pada

teteknya yang mungil itu.

"Evi mau lebih enak lagi enggak?" tanyaku. Lagi-lagi Evi diam. Kutidurkan dia di atas tempat tidurku. Lalu

kukangkangkan kedua pahanya. Pagina mulus tanpa bulu dan bibir itu, begitu indahnya. Mulai kujilati paginanya.

Dengan lidah secara lembut kuarahkan lidahku pada klitorisnya. Naik-turun, naik-turun. Kulihat Evi memejamkan

matanya.

"Bagaimana, nikmat?" tanyaku. Lagi-lagi Evi yang suka grusah grusuh itu diam saja. Kulanjutkan menjilati

paginanya. Aku belum sampai hati merusak perawannya. Dia harus tetap perawan, pikirku. Evi pun menggelinjang.

Tiba-tiba dia minta berhenti. Saat aku memberhentikannya, dia dengan cepat berlari ke kamar mandi. Aku

mendengar suara, Evi sedang kencing. AKua mengerti, kalau Evi masih kecil. Setelah dia cebok, dia kembali lagi

ke kamarku.

Evi meminta lagi, agar teteknya dijilati. Nanti kalau sudah tetek di jilati, memeng Evi jilati lagi ya Kak?

katanya. Aku tersenyum. Dia sudah dapat rasa nikmat pikirku. Aku mengangguk. Setelah dia kurebahkan kembali di

tempat tidur, kukangkangkan kedua pahanya. Kini burungku kugesek-gesekkan ke paginanya. Kucari klitorisnya.

Pada klitoris itulah kepala burungku kugesek-gesekkan. Aku sengaja memegang burungku, agar tak sampai merusak

Evi. Sementara lidahku, terus menjilati puting teteknya. Aku merasa tak puas. Walaupun aku laki-laki, aku

selalu menyediakan lotion di kamarku, kalau hari panas lotion itu mampu mengghilangkan kegerahan pada kulitku.

Dengan cepat lotion itu kuolesi pada bvurungku. Lalu kuolesi pula pada pagina Evi dan selangkangannya. Kini Evi

kembali kupangku.

Paginanya yang sudah licin dan burungku yang sudah licin, berlaga. Kugesek-gesek. Pantatnya yang mungil

kumaju-mundurkan. Tangan kananku berada di pantatnya agar mudah memaju-mundurkannya. Sebelah lagi tanganku

memeluk tubuhnya. Dadanya yang ditumbuhi tetek munguil itu merapat ke perutku. Aku tertunduk untuk menjilati

lehernya. Rasa licin akibat lotion membuat Evi semakin kuat memeluk leherku. Aku juga memeluknya erat. Kini

bungkahan lahar mau meletus dari burungku. Dengan cepat kuarahkan kepala burungku ke lubang paginanya. Setelah

menempel dengan cepat tanganku mengocok burung yang tegang itu. Dan crooot...crooot...crooot. Spermaku keluar.

Aku yakin, dia sperma itu akan muncrat di lubang pagina Evi. Kini tubuh Evi kudekap kuat. Evi membalas

dekapanku. Nafasnya semakin tak teratur.

"Ah...kak, Evi mau pipis nih," katanya.
"Pipis saja," kataku sembari memeluknya semakin erat. Evi membalas pelukanku lebih erat lagi. Kedua kakinya

menjepit pinggangku, kuat sekali. Aku membiarkannya memperlakukan aku demikian. Tak lama. Perlahan-lahan

jepitan kedua aki Evi melemas. Rangkulannya pada leherku, juga melemas. Dengan kasih sayang, aku mencium

pipinya. Kugendong dia ke kamar mandi. Aku tak melihat ada sperma di selangkangannya. Mungkinkah spermaku

memasuki paginanya? Aku tak perduli, karean aku tau Evi belum haid.
Kupakaikan pakaiannya, setelah di kamar. Aku makai kain sarungku. Mari kita bobo, kataku. Evi menganguk.
"Besok lagi, ya Kak," katanya.
"Ya..besok lagi atau nanti. Tapi ini rahasia kita berdua ya. Tak boleh diketahui oleh siapapun juga," kataku.

Evi mengangguk. Kucium pipinya dan kami tertidur pulas di kamar.
Kami terbangun, setelah terdengar suara bell. Evi kubangunkan untuk membuka pintu. Mamanya pulang dengan

papanya. Sedang aku pura-pura tertidur. Jantungku berdetak keras. Apakah Evi menceritakan kejadian itu kepada

mamanya atau tidak. Ternyata tidak. Evi hanya bercerita, kalau dia ketiduran di sampingku yang katanya masih

tertidur pulas.

"Sudah buat PR, tanya papanya.
"Sudah siap, dibantu kakak tadi," katanya. Ternyata Evi secara refleks sudah pandai berbohong. Selamat,

pikirku.

Setelah itu, setiap kali ada kesempatan, kami selalu bertelanjang. Jika kesempatan sempit, kami hanya cipokan

saja. Aku menggendongnya lalu mencium bibirnya.
Hal itu kami lakukan 16 bulan lamanya, sampai aku jadi sarjana dan aku harus mencari pekerjaan.
Malam perpisahan, kami melakukannya. Karean terlalu sering melaga kepala burungku ke paginanya, ketika

kukuakkan paginanya, aku melihat selaput daranya masioh utuh. Masa depannya pasti masih baik, pikirku. Aku tak

merusak pagina mungil itu.

Sesekali aku merindukan Evi, setelah lima tahun kejadian. AKu tak tahu sebesar apa teteknya sekarang, apakah

dia ketagihan atau tidak. Kalau ketagihan, apakah perawannya sudah jebol atau tidak. Semoga saja tidak

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar